Begini kejadiannya (dengan irama lagi ngebawain acara silet hehe):
Kejadian itu terjadi tepat di depan rumah simbah (red:kakek) dari salah satu temanku yang jadi aktor intelektual (berasa laporan kriminal) kejadian malam itu...
Sesuai jadwal rutin, malam itu aku dan gengku (aku sebut mereka gengku, beneran gambaran kultur ndeso dengan adanya geng-gengan kaya gini, karena pada kenyataanya sebagian besar waktu masa kecilku kuhabiskan dengan mereka, bermain, bercanda, berburu dan semua kegiatan lainnya, selain main bola, karena sayangnya mereka ngga ada yang bagus maen bolanya hehehe)
Jika pada waktu itu kisaran usiaku adalah antara 14-15 tahun, maka sebut saja A (cucu si simbah), waktu itu berusia sekitar 11 tahun, jawa tulen setulen2nya bahkan lebih kental dari jenang (dodol-red) yang dibuat dirumahnya tiap lebaran..tinggi kurus, tapi bernyali pejuang '45.
Tokoh kedua adalah H (teman sebaya anton), berusia 13 tahun, melayu sejati, dengan perawakan dan penampakan melayu totok...begitu pula dengan logatnya...
I a.k.a I juga, pemuda tegap (tengil berbadan gelap hehe) berambut keriting, anak yang pemberani yang melebihi keberanian anak2 pada usianya,,,untuk ikutan militer dah ga perlu di tes lagi kayanya nih anak..merupakan anak yang paling muda usianya, tapi selalu menjadi ujung tombak..ya bener, ujung tombak secara harfiah, jadi umpan, jadi tameng dan jadi bulan2an hehe..
Malam itu rencananya kami hanya ingin berkumpul saja dan ngobrol2 karena itu malam minggu, malam liburan satu-satunya dalam minggu yang normal untuk anak sekolahan dan karena pada malam itu simbah A sedang kerumah saudaranya yang lain, dan rumahnya kosong, jadilah malam itu kami berkumpul didepan rumah itu...
Dengan tidak adanya lampu penerangan, kemudian tidak adanya lampu di teras, maka didepan rumah itu sangat gelap.
Rumah tersebut tepat mengarah ke jalan, dengan jarak dari jalan aspal (kami menyebutnya jalan raya, yang sebenarnya hanya mampu memuat 2 kendaraan secara bersamaan, dan kambing serta sapi dipinggir jalan), jangan bayangkan bahwa kondisinya seperti perumahan dikota pada umumnya, disana rumah berjauhan sehingga jika tidak ada lampu penerangan jalan, maka kondisinya benar2 gelap...
Jam 8 malam tepat, semua berkumpul didepan rumah dan duduk di bawah pohon rambutan yang sebenarnya tidak terlalu besar (mungkin hanya setinggi 3 meter, lebih tepat disebut sebagai anak pohon rambutan)...berbagai macam obrolan mengisi malam itu, dan rasanya karena sering bertemu bosan juga kalau hanya ngobrol, mulailah macam2 ide keluar apa yang ingin dilakukan untuk mengisi malam itu....
yang namanya anak desa dan terbiasa untuk mencari permainan aneh dan penuh tantangan, banyak banget yang ingin dilakukan (dan rasanya ga ada yang baik hahaha),,,
Sebagian besar ide yang muncul dari pertemuan tak penting itu di tolak, karena sudah biasa (bayangkan, ngambil rambutan orang malam2 adalah hal yang sudah biasa? hehe bener2 dah waktu itu, anak desa yang kurang sarana untuk main dan kurang bimbingan, padahal adrenalinnya gede semua haha)
Dan ide yang akhirnya di terima adalah ngelempar mobil orang dari pinggir jalan raya (ide yang nakal dan bandel banget bukan), untungnya waktu itu aku menolak dan tidak ikutan, tapi sedihnya aku juga tidak menghalangi ataupun mencegah mereka untuk melakukannya...aku hanya pura2 tidak tau dan tidak mau tau...
Jadilah, akhirnya aku hanya duduk dibawah pohon rambutan sedang mereka mulai berjongkok di pinggir semak2 (rerumputan) dipinggir jalan raya, penyamaran mereka macamkan kopassus sedang mengintai musuh saja..
dari jarak 50 meter aku bisa menebak posisi dari masing-masing orang...
Dan dimulailah tragedi itu..
sejak awal mereka cuma ingin melempar bak (apa ya, hmm itu loh kalo truk yang bagian belakangnya aja, yang dari kayu ataupun dari seng)...
apa daya, karena adrenalin yang terlalu berlebihan, akhirnya mereka mulai tidak disiplin (hayyah, bikin kejahatanpun ada disiplinnya pulak)...mereka mulai melempari mobil pribadi (yang lewat mungkin cuma 1 kali dalam 1 menit)..
sekali, dua kali, rasanya mereka tidak menembak dengan tepat,,,,
Nah kejadian mulai mencapai puncak, mungkin karena jengkel, ndak ada tantangannya,ndak ada mobil yang kena, naiklah level kejahatannya..dari mulai penggantian mobil sekarang menjadi pengantian senjata, awalnya cuma batu sebesar kelingking, mulai naik sebesar jempol dan kemudian naik lagi menjadi sebesar kepalan tangan...dan disitulah tragedi dan musibah dimulai....(to be continued)
Rasanya cerita ini ndak ada nilai baiknya hehe..tapi biarlah kulanjutkan untuk jadi pelajaran bagi siapapun...bahwa kejatahan tidak saja datang karena ada kesempatan, tapi karena adanya peluang (halahhh...)
1 comment:
hmm 10 july 2008 baru diisi lagi tgl 13 Agustus 2008 berarti 1 bulan ngga ngisi nih, berarti traktiran dong. horrayyyy. btw eniwei kt nya yang andaryoko itu beneran supriyadi lho. dia yang paling bisa meyakinkan dibanding supriyadi2 lainnya. halah kok malah bahas andaryako :))
Post a Comment