Ada beberapa buku fiksi yang menurutku sulit untuk kulupakan begitu saja, selain karena ceritanya yang menarik, tema-tema yang diangkat yang outstanding dan tentu saja kemampuan dari si pengarang dalam menerjemahkan ide-ide, pemikiran, dan imajinasi yang berkeliaran di kepalanya.
Dan kurasa kemampuan menerjemahkan ide-ide menjadi larik tulisan, paragraf, konflik, penggambaran dan penokohan inilah yang membedakan antar pengarang. Banyak kadang kutemui pengarang-pengarang yang memiliki ide yang begitu original dan bagus, tapi cara dia membangun konflik, mengurutkan cerita serta emosi yang terkandung dalam ceritanya tidak terasa, datar.
Nah bukan kapasitasku untuk menilai salah ataupun mengkritisi orang hehe, tapi tak ada salahnya sedikit memberikan pujian untuk beberapa pengarang mengenai kemampuan dan kekuatan olah kata dan olah ceria mereka...
Ada beberapa nama yang menurutku kuat serta "spesifik"kemampuannya dalam bercerita. mungkin ada yang kurang sependapat, dan bisa jadi masih banyak pengarang lain yang terlewat olehku, karena masih kurangnya jam terbang bacaku...mungkin nanti bisa ada yang membantuku memberikan rekomendasi pengarang2 yang mumpuni, yang bukunya memang layak untuk menjadi pajangan muka pada lemari pustaka kita. Tapi bagiku sendiri, cukup banyak nama yang bisa ku paparkan, tapi rasanya untuk pertama ini cukuplah tiga nama saja.
Segelintir nama yang layak menurutku diistilahkan sebagai öutstanding author (lokal) adalah maestro (yang hanya karena mungkin beliau orang indonesia saja, sehingga tidak mendapat nobel sastra) sastra kita Pak Pram alm., selanjutnya tentunya Andrea Hirata dan terakhir menurutku (dan juga menurut banyak pendapat) ES ITO. Tidak adanya pengarang wanita, mungkin karena aku memang jarang membaca buku fiksi karangan wanita, bukan alasan gender tentuny.
Sampai pada nama ES ITO, karena dia adalah pengarang muda dengan buku yang baru saja aku baca, rasanya cukup banyak yang ingin kuulas mengenai pengarang kita satu ini.
Kenapa pengarang2 diatas yang aku pilih? mungkin karena kesukaanku pada bacaan2 berat dan penuh dengan idealisme, semangat, tantangan dan tentunya kembali kepada dasar pemikiran awal, yaitu mereka layak disebut sebagai pengarang yang punya idealisme dan kecerdasan. Selanjutnya aku akan mencoba membahas Pak Pram dengan buku Tetralogi Pulau Buru-nya, Bang Andrea dengan Tetralogi Laskar Pelangi dan terakhir Bung ES ITO dengan buku fiksi sejarahnya.